Selasa, 12 April 2011

Pakan Sapi Bali

II. PAKAN SAPI BALI

Keberhasilan usaha peternakan sapi, baik itu sapi potong, sapi kerja, maupun sapi perah sangat tergantung dari pemberian pakan yang cukup dan memenuhi syarat. Namun perlu disadari bahwa pemberian pakan yang cukup dan memenuhi syarat syarat ini tidak akan dapat mengubah sifat genetik sapi. Besar tubuh sapi Bali tidak dapat diubah menyerupai sapi Hereford, tetapi pemberian pakan yang cukup dan memenuhi syarat pasti akan dapat menunculkan sifat bawaannya yang baik, mislanya pertumbuhannya menjadi lebih sempurna dan lebih cepat, dan persentase karkasnya menjadi lebih tinggi, dan lebih tahan terhadap penyakit.
Pemberian pakan pada ternak sapi, baik sapi potong maupun sapi perah harus dilakukan secara berkesinambungan sehingga pertumbuhannya tidak terganggu. Pemberian pakan yang tidak berkesinambungan akan menimbulkan goncangan pertumbuhan sapi. Keadaan ini sering ditemukan pada sapi Bali yang dipelihara di daerah pegunungan / daerah dataran tinggi yang pengairannya tergantung dari air hujan, seperti di daerah Bukit Jimbaran, daerah Kubu Karang Asem, daerah NTT dan lai-lain. Pada musim hujan, sapi bali yang dipelihara di daerah tersebut tumbuh dan bertambah bobot dengan sangat cepat karena sapi mendapat pakan dalam jumlah yang cukup dan memenuhi syarat. Akan tetapi, pada musim kemarau pertumbuhannya atau bobot badannya dapat menurun secara dratis, sebab selama musim kemarau persediaan pakan dan daya cerna sapi akan hijauan menjadi berkurang. Hal ini tyerutama disebabkan oleh hilangnya energi, mineral dan protein yang terkandung dalam hijauan/rerumputan akibat kekurangan air. Dengan demikian, hijauan/rerumputan yang yang diberikan kepada ternak tidak lagi memenuhi syarat, bahkan jumlahnyapun tidak mencukupi kebutuhan sapi. Sebagai akibatnya ialah : pertumbuhan terhambat, sapi yang sudah dewasa berat badannya menurun/kurus, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai sapi potong. Perkembangbiakannya terhambat karena fertilitasnya menurun, persentase karkasnya juga sangat rendah.
Oleh karena itu, peternak harus berusaha memberi pakan yang cukup dan memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan sapi. Ransum sapi yang memenuhi syarat ialah ransom yang mengandung : protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air dalam jumlah yang cukup. Kesemuanya dapat disediakan dalam bentuk hijauhan dan konsentrat.

Kebutuhan sap[I akan Gizi
a. Protein.
Protein berfungsi untuk memperbaiki dan menggantikan sel tubuh yang rusak, (misalnya pada sapi lanjut usia), pembentukan se-sel baru dari tubuhnya (misalnya pada pedet), berproduksi (misalnya pada sapi dewasa) dan diubah mnjadi energi (misalnya pada sapi kerja).
Protein lebih banyak dibutuhkan oleh sapi muda yang sedang tumbuh dibandingkan sapi dewasa. Karena unsure protein tidak dapat di bentuk dalam tubuh, padahal sangat mutlak diperlukan, oleh karena itu sapi harus diberi pakan yang cukup mengandung protein.
Sumber protein bagi sapi adalah hijauan dari jenis leguminosa seperti Centrosema pubescens, daun turi, lantoro dan pakan tambahan berupa penguat seperti bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, katul, tepung darah, tepung ikan, tepung daging dan lain-lain.
Protein asal hewan (hewani) lebih baik ketimbang protein asal tanaman (nabati), sebab kandungan asam amino essensial dan nilai gizinya lebih tinggi. Bahan pakan yang berkadar protein tinggi ialah yang susunan proteinnyamendekati susunan protein tubuhnya. Protein hewani dapat diproses kembali kembali menjadi protein jaringan dengan resiko kerugian yang sangat kecil bila dibandingkan dengan pengolahan protein nabati seperti jagung dan jerami.
Ternak rumenansia, termasuk sapi, tidak membutuhkan protein yang bermutu tinggi di dalam pakannya, sebab di dalam rumen dan ususnya yang panjang itu, pakan diolah oleh jasad renik. Namun, jika protein yang diberikan adalah protein yang telah usang dan terurai, maka protein atau sam-asam amino dalam pakan harus ditingkatkan pula. Oleh karena itu, jika sapi hanya diberi pakan berupa jerami, khususnya sapi penggemukan, maka kekurangan unsure protein/asam-asam amino dan unsr lainya dapat ditutupi dengan pemberian pakan tambahan yang banyak mengandung protein, lemak dan karbohidrat. Kadar serat kasar tinggi dan kekurangan unsure protein, lemak dan karbohidrat dalam jerami menyulitkan pencernaan.

b. Lemak.
Lemak berfungsi sebagai sumber energi (tenaga) dan sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K dalam tubuh.
Dalam tubuh, lemak dalam bahan pakan dapat diubah menjadi pati dan gula, dapat digunakan sebagai sumber tenaga, atau dapat disimpan di dalam jaringan atau sel sebagai lemak cadangan. Kandungan lemak dalam tubuh berbeda-beda antara jaringan satu dan jaringan lainnya. Lemak tubuh biasanya dibentuk dari karbohidrat dan lemak makanan, yang didak langsung digunakan. Di dalam tubuh, kelebihan lemak akan disimpan di bawah kulit sebagai lemak cadangan. Setiap jenis ternak memiliki alat atau tempet khusus untuk menyimpan lemak, misalnya sapi pada punuknya, domba ekor gemuk pada ekornya dan lain sebagainya. Disamping itu, lemak yang berlebihan juga dapat disimpan disekitar buah pinggang, selaput penggantung usus dan diantara otot-otot.
Tubuh hewn terdiri atas tiga jenis jaringan, yaitu tulang otot dan lemak. Di antara ketiga jenis jaringan tersebut, jaringan nlemak terbentuk paling akhir. Pada ternak sapi potong yang digemukkan, seperti pada sapi kereman, lemak yang disimpan menyelubungi serabut otot sehingga atau daging sapi menjadi lebih lembut. Dalam tubuh hewan, lemak mempunyai sifat yang berbeda. Sapi yang dipotong pada usia lanjut akan memiliki daging yang liat, apalagi bila sapi itu dipekerjakan terlalu berat dan diberi pakan yang tidak memenuhi syarat. Hewan ternak yang hanya diberi pakan berupa hijauan dari rumput akan memperoleh kadar lemak yang sangat rendah sebab kandungan lemak kasar pada rumput hanya sekitar 1%. Bahan pakan ternak yang banyak mengandung lemak adalah : bungkil kacang tanah, bungkil kelapa dan bungkil kedelai.

c. Karbohidrat
Karbohidrat berfungsi sebagai sumber tenaga (energi) dan sebagai pembentuk lemak cadangan di dalam tubuh. Setelah dicerna, karbohidrat diserap oleh darah berupa glukosa dan langsung dioksidasi menjadi energi atau lemak cadangan. Suber karbohidrat yang penting ialah serat kasar dan BETN (bahan ekstrak tanpa nitrogen) yaitu bagian dari bahan makan yang banyak mengandung karbohidrat, pati dan gula. Jagung dan pakan butiran lainnya juga sebagai sumber karbohofrat. Kebutuhan sapi akan karbohidrat juga dapat dipenuhi dari bahan hijauan, sehingga kebutuhan ternak akan karbohidrat tidak banyak mengalami kesulitan.

d. Mineral
Mineral berguna dalam pembentukan jaringan tulang dan otot, proses produksi, penggantian mineral tubuh yang hilang, dan pemeliharaan kesehatan.
Meskipun diperlikan hanya dalam jumlah yang kecil dan terdapat dalam jumlah banyak dalam jaringan tulang, mineral berperan amat penting dalam kehidupan hewan ternak. Yaitu : mineral mempermudah proses pencernaan dan penyerapan zat makanan, pada anak hewan yang sedang tumbuh atau yang sudah dewasa, mineral diperlukan untuk memperbarui sel-sel yang mati. Selain itu, janin hanya dapat tumbuhdengan baik bila tersedia mineral dalam jumlah yang cukup.
Beberapa jenis mineral penting yang diperlukan tubuh ialah : natrium, khlor, kalsium, fosfor, sulfur, kalium, magnesium, tembaga, seng, selenium. Pada umumnya unsure tersebut banyak terdapat dalam pakan. Namun mineral tertentu seperti garam dapur (NaCl), calsium (Ca) dan fosfor, sering masih perlu ditambahkan dalam ransum.
Mineral fosfor banyak ditemukan pada padi-padian, sedangkan makanan kasar lainnya banyak mengandung Ca. Tanda bahwa ternak sapi kekurangan mineral ialah : sapi suka makan tanah. Kekurangan mineral dapat menimbulkan penyakit tulang atau fertilitasnya (kesuburan) ternak menjadi rendah. Pada sapi, sumber mineral utama ada;ah hijauan, dan pakan tambahan berupa mineral (feed supplement-mineral)

e. Vitamin
Dalam tubuh, vitamin berfungsi untuk mempertahankan kekuatan tubuh dan memprimakan kesehatan dalam berproduksi.
Kebutuhan ternak akan vitamin sering tidak menjadi perhatian peternak karena unsure tersebut biasanya tersedia dalam jumlah yang cukup dalam pakan. Selain itu, hewan memamah biak seperti sapi dapat membentuk vitamin tertentu dalam ususnya, terutama vitamin B kompleks. Akan tetapi, pada musim kemarau yang panjang, bahan pakan sapimengandung vitamin A dengan kadar yang tidak cukup. Oleh karena itu, bagi ternak sapi yang dipelihara secara intensif, atau yang ruang geraknya dibatasi, ransumnya perlu ditambahkan vitamin A.
Jika kadar vitamin A dalam tubuh berlebihan, maka vitamin tersebut akan disimpan dalam waktu yang lama dalam hati. Pada sapi vitamin A yang disimpan dapat bertahan sampai enam bulan, dan kambing selama tiga bulan. Bagain hijauan tanaman yang sedang tumbuh, atau pada bagian pucuknya banyak mengandung karoten, yang dalam tubuh hewn dapat diubah menjadi vitamin A.
Sementara vitamin A dapat dibentuk dari karoten, vitamin B dapat dibentuk sepenuhnya di dalam tubuh hewan, sedangkan vitamin C dapat dibentuk sendiri oleh semua jenis hewan yang telah dewasa, dan vitamin D dibentuk oleh tubuh hewan dari provitamin D dengan bantuan sinar matahari.
Sumber utama vitamin tubuh pada sapi adalah hijauan.. Akan tetapi, beberapa factor seperti jenis tanah, iklim dan waktu dan cara penyimpanan hijauan, dapat berpengaruh terhadap kandungan vitamin dalam hijauan itu
f. Air
Air berfungsi mengatur suhu tubuh, membantu proses pencernaan, mengelauarkan bahan yang tidak berguna dari dalam tubuh seperti keringat, air seni, dan kotoran (80% air), melumasi persendian, dan membantu pengpenglihatan.
Air merupakan unsure terbesar dalam tubuh hewan karena lebih dari 50% komposisi tubuh terdiri atas air. Kebanyakan jaringan dalam tubuh hewan mengandung 70-90% air. Hewan yang kekurangan air biasanya lebih cepat mati daripada yang kekurangan makanan yang sekali gus membuktikan bahwa air mempunyai fungsi yang sangat penting bagi ternak. Oleh karena itu, para peternak harus sungguh-sungguh memperhatikan kebuituhan ternaknya akan air.
Kebutuhan ternak akan air minum sangat beragam di antara ternak yang satu dengan yang lainnya. Keragaman ini dipengaruhi olah berbagai faktor, seperti : jenis sapi, umur, suhu lingkungan, jenis bahan makanan, dan volume makan yang masuk dalam tubuh, serta aktifitas sapi yang bersangkutan. Pada sapi muda. I yang sedang bekerja, sapi yang berada pada lingkungan suhu yang tinggi, dan sapi yang diberi pakan jerami dalam jumlah yang besar, kebutuhan akan air minum lebih tinggi jika dibandingkan dengan sapi pada keadaaan normal.
Kebutuhan tubuh sapi akan air dapat dipengaruhi dari air minum, air dalam bahan makanan, dan air metabolic yang berasal dari glukosa, lemak dan protein. Sebagai pedoman bagi penyediaan air minumadalah : sapi dewasa yang bekerja memerlukan air sekitar 35 liter air dalam sehari, sedangkan sapi yang tidak bekerja memerlukan air sekitar 25 liter.
Bahan Pakan Sapi
Sapi bali yang dilahan persawaan dalam kehidupannya lebih banyak memakan rumput dibandingkan semak dan pohon, sedangkan yang dipelihara di lahan kering, secara persentase lebih banyak memakan semak dan pohon. Sapi bali pejantan jika dibandingkan dengan yang betina, lebih banyak memakan rumput. Begitu pula pada musim hujan sapi bali lebih banyak makan rumput, sedangkan semak dan pohon konsumsinya meningkat pada musim kemarau. Secara umum apabila dilihat komposisi pakan sapi Bali, terdiri atas rumput (78%), leguminosa (3%), semak dan pohon (15%), jerami (2%), batang pisang (1%) dan lainnya (1%).
Tabel 2.1. Komposisi Bahan (%) Pakan Sapi Bali di Bali
No Jenis Pakan Musim Pemantaatan Lahan Klasifikasi Sapi
Hu
jan Kema
rau Sa
wah Tegalan Ke
bun Pe
det Ke
biri In
duk Pejan
tan
1 Rumput 79 49 85 70 80 78 78 72 80
2 Leguminosa 2 1 0 2 0 2 0 0 0
3 Semak dan Pohon 14 32 6 23 15 11 17 20 9
4 Jerami 2 6 3 1 1 5 2 2 3
5 Batang Pisang 1 9 2 2 1 0 1 2 3
6 Lainnya 2 3 4 2 2 4 2 4 5
Sumber : Nitis, 2001
Pakan untuk sapi Bali yang dikandangkan mesti selalu terseia sepanjang hari. Pakan itu akan lebih diminati sapi bila sebelumnya telah dilayukan, karena pakan yang memiliki aroma yang membuat selera makan sapi turun telah menguap. Untuk itu pakan mesti dikumpulkan sehari sebelumnya (sore) untuk diberikan keesokan harinya. Untuk mengurangi pakan yang tercemar akibat ulah sapi yang kerap memilih pakan, sebaiknya diberikan dua kali, pada pagi dan sore hari. Kebiasaan memberikan pakan dua kali ini akan membuat peternak lebih sering bertemu dengan sapinya, karena bila terjadi perubahan prilaku ternak akibat sakit, birahi atau beranak peternak akan segera mengetahiu. Dalam pemilihan pakan ternak sapi, selain zat yang terkabdung di dalammnya, perlu juga dipartimbangkan sifat biologi bahan pakan yang akan diberikan seperti : tekstur, palatibilitas (enak tidaknya) dan daya cernanya. Sebagai contoh jagung giling yang kasar relative lebih sukar dicerna oleh sapi jika dibandinghkan dengan jagung giling yang lebih halus. Bahan pakan yang rusak, tengik ataupun kurang enak tentu akan disisihkan oleh sapi atau terbuang percuma karena sapi tidak mau makan bahan pakan yang telah rusak. Demikain pula bahan pakan kasar seperti jerami akan sulit dicerna oleh sapi sebab zat makanan dalam jerami tertutup oleh dinding sel yang sukar dicerna oleh sapi. Bahan pakan yang sukar dicerna sebaiknya diberi perlakuan khusus sebelum diberikan kepada sapi.

Bahan Pakan Hijauan.
Sapi Bali dapat diberikan pakan dalam tiga jenis yaitu : pakan hijauan, pakan konsentrat (penguat), dan pakan tambahan. Bahan hijauan dapat diberikan pada sapi Bali dalam bentuk segar dan kering atau dikeringkan. Bahan pakan hijauan juga dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu rerumputan dan jenis daun-daunan. Pakan jenis jenis rerumputan dapat berupa rumput lapangan (lokal) dan rumput unggul seperti rumput gajah, rumput setaris, rumput benggala dan lain sebagainya. Rerumputan umumnya mengandung banyak karbohidrat tinggi, tetapi mengandung sedikit protein.
Pakan jenis dedaunan dapat berasal dari kacang-kacangan (leguminosa) dan nonleguminosa, Pakan jenis dedaunan yang yang berasal dari leguminosa umumnya lebih disukai olah sapid an juga memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan pakan yang berasal dari nonleguminosa maupun dari rerumputan. Dedaunan yang sering diberikan pada sapi Bali antara lain daun dadap, daun gamal, daun kayu santen, daun kaliandra, daun belalu/albezia, daun lantoro, daun turi, daun bunut, daun waru, daun nangka dan lain-lainnya.
Jumlah pakan hijauan segar yang diberikan pada sapi, baik baik berupa rerumputan maupun dedaunan, tergantung dari bobot sapi. Sapi bali dengan bobot 300 kg biasanya diberikan pakan hijauan dalam bentuk segar sebanyak 30 kg/hari atau 10% daribobot badannya. Hijauan segar sebaiknya berasal dari berbagai jenis hijauan, sehingga kebutuhan sapi akan zat makanan dapat terpenuhi. Sebagai contoh sapi Bali dengan berat 250 kg yang diberikan hijauan dengan komposisi 70% rumput gajah dan 30% daun gamal kebutuhan akan protein, kalori dan energi metaboliknya dapat terpenuhi sehingga sapi dapat tumbuh dengan baik.
Pakan hijauan kering atau dikeringkan dapat berupa jerami dan dedaunan yang dikeringkan. Jerami ialah hasil ikutan pertanian seperti padi, kacang tanah, kedelai, dan jagung yang berupa batang, daun dan ranting. Sedangkan hijauan kering adalah hijauan jenis rerumputan yang sengaja ditanam dan dipanen saat menjelang berbunga dan langsung dikeringkan.

Bahan Pakan Konsentrat (Penguat) Sapi Bali
Sebagai ternak perintis, sapi Bali mampu beradaptasi dengan berbagai jenis pakan kasar yang bergizi rendah, seperti jerami padi dan rumput kering. Meskipun tidak mencapai maksimal, sapi Bali dapat tumbuh dengan baik jika sapi ini hanya diberi rerumputan dan dedaunan terutama pada musim hujan ketika hijauan tersedia dalam jumlah yang berlimpah. Keadaan ini secara ekonomis sangat menguntungkan peternak.
Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih baik, sapi Bali perlu diberi pakan penguat terutama pada musim kemarau ketika persediaan hijauan berkurang, dan nilai gizi hijauan menjadi sangat rendah. Dengan pemberian pakan kosentrat, nilai gizi pakan dapat diperbaiki. Pemberian konsentrat pada saat persediaan hijauan berlimpah, yaitu pada musim hujan dapat mempercepat pertumbuhan sapi Bali dengan tambhan bobot badan selama fase penggemukan bias mencapai 600-800 kg/ekor/hari.
Kosentrat atau pakan penguat merupakan jenis pakan bergizi tinggi dengan kandungan serat kasar yang relative rendah, sehingga lebih mudah dicerna dibandingkan hijauan. Pada sapi Bali, pakan kosentrat biasanya berupa dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, gaplek (ketela pohon) dan sebagainya. Harga bahan pakan kesentrat relative lebih mahal dibandingkan harga bahan hijauan. Pada saat hijauan tersedia dalam jumlah yang berlimpah, pemberian kosentrat perlu dipertimbangkan secara ekonomis, karena pemberian kosentrat yang terlalu tinggi secara ekonimi sering tidak menguntungkan.

Bahan Pakan Tambahan.
Walaupun telah diberi pakan berupa hijauan dan/atau kosentrat yang telah mengandung zat makanan yang memenuhi kebutuhannya, sapi Bali masih sering menderita kekurangan vitamin, mineral dan bahkan protein, Keadaan ini dapat mengganggu pertumbuhan atau kesehatan sapi Bali sehingga untuk mengatasinya sapi dapat diberikan pakan tambahan.
Vitamin biasanya diberikan dalam bentuk pakan tambahan/feed supplement berupa minyak ikan yaitu untuk memenuhi kekurangan vitamin A dan Vitamin D.
Kekurangan mineral, khususnya Ca, P dan NaCl pada pakan ternak , dapat dipenuhi dengan pemberian tepung tulang, tepung kapur (CaCO3) dan garam dapur (NaCl).
Kekurangan protein sering terjadi bila sapi Bali hanya diberi pakan berupa jerami atau atau rumput kering yang berkadar protein rendah, maka untuk memenuhinya ke dalam pakan perlu ditambahkan urea. Pemberian urea dapat menguntungkan karena sebagi hewan rumenansia, sapi Bali mampu mengubah sumber nitrogen nonprotein menjadi protein. Selai itu, bahan pakan berprotein tinggi seperti tepung daging, tepung ikan harganya cukup mahal.
Akan tetapi, pemberian urea pada sapi Bali perlu kehati-hatian sebab pemberian urea yang berlebihan dapat menyebabkan keracunan. Sebagai pedoman kadar urea dalam pakan tidak boleh melebihi 1% dari jumlah pakan atau 20 gram per 100 kg bobot badan sapi Bali.

Penyusunan Ransum Sapi Bali
Pemberian pakan pada sapi Bali oleh peternak tradisional biasanya hanya memperhatikan jumlah atau volume pakan tanpa banyak memperhatikan kandungan zat makanan pakan yang diperlukan sapi. Sapi Bali yang dilepas di padang penggembalaan secara selektif dapat memilih jenis pakan yang secara alamiah dapat memenuhi kebutuhan akan zat gizi. Akan tetapi, sapi Bali yang dikandangkan komposissi pakan perlu diatur agar memenuhi nilai gizi yang diperlukan.
Penyusunan ranrum sapi Bali baik untuk penggemukan, pertumbuhan, menyusui dan bunting harus disesuaikan dengan kebutuhan ternak itu akan bahan kering (BK), total Digestible nutrient (TDN), protein kasar (PK), metabolic energy (ME), calsium (Ca) dan phosphor (P). Contoh komposisi bahan pakan seperti Tabel 2.2. Sementara itu, kebutuhan ternak akan bahan kering, dan pakan kasar, ME, Ca dan P tergantung dari jenis kelamin ternak, umur ternak, dan tujuan pemeliharaan dan contoh terlihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2,2, Komposisi Bahan Pakan Ternak
N0. Nama Bahan BK
(%) PK
(%) TDN
(%) ME
(Mcal/kg) Ca
(%) P
(%)

1 Jerami Kacang Tanah 38,1 15,2 63,3 2,37 1,40 0,20
2 Jerami Kedelai 86,0 16,6 56,0 2,03 1,20 0,31
3 Jerami Padi 40,0 4,3 39,5 1,53 - -
4 Daun Lantoro 29,1 23,2 63,1 2,70 2,20 0,31
5 Rumput Benggala 40,0 4,9 45,3 1,61 0,25 0,26
6 Rumput Gajah 15,7 11,4 53,1 1,89 0,70 0,40
7 Rumput Panicum maxsimum 40,0 4,9 45,3 4,61 0,25 0,26
8 Dedak Padi 86,0 14,0 87,6 3,32 0,10 0,80
9 Bungkil Kelapa 86,0 21,6 78,0 2,85 0,16 0,72
Sumber : Tellman, A.D dkk Ilmu Pakan Ternak Dasar

Tabel 2.3. Kebutuhan Nutrisi Sapi Bali
Bobot Sapi
Bali Tambahan
Bobot Makan-an BK Makanan Kasar PK
(%) TDN
(%) ME
Mcak/kg Ca
(%) P
(%)
150 Jantan 0,0
0,7 2,8
3,9 100
55 8,7
12,6 55
70 2,0
2,5 0,18
0,46 0,18
0,36
200 Jantan 0,0
0,7 2,8
5,7 100
75 8,7
10,5 55
64 2,0
2,3 0,18
0,23 0,18
0,28
150 Betina 0,0
0,5 2,8
4,1 100
75 8,7
11,0 55
61 2,0
2,2 0,18
0,34 0,18
0,29
200 Betina 0,0
0,5 3,5
6,0 100
75 8,5
10,2 55
64 2,0
2,3 0,18
0,32 0,18
0,27
300-400 Bunting - 10,5 85 5,9 56 1,9 0,21 0,20
300-400 Menyusui - 10,8 85 10,9 55 2,0 0,24 0,38

Misalnya, jika di kebun tersedia rumput Benggala dan daun lantoro dan saat itu terdapat sapi bunting dengan berat 300 kg. Bila sapi itu diberikan pakan yang terdiri atas 70% rumput benggala dan 30% daun lantoro, maka susunan ransom kita adalah :
Sapi Bali bunting memerlukan pakan dalam bentuk BK sebanyak = 10,5 kg
Perhitungan BK :
Rumput benggala = 70/100 x 10,5 = 7,35 kg
Daun Lantoro = 30/100 x 10,5 = 3,15 kg
Perhitungan Berat Basah
Rumput benggala = 100/40 x 7,35 = 18,375kg
Daun Lantoro = 100/29 x 3,15 = 10,825 kg

Tabel 2.4. Susunan Ransum sapi Bali Bunting Bertat 300 Kg.
No, Nama
Bahan Berat
Bahan (kg) BK
(kg) PK
(kg) TDN
(kg) ME
(Mcal) Ca
(kg) P
(kg)
1 Rumput
Benggala 18,375 7,35 0,36 3,33 11,834 0,0184 0,0191
2 Daun
Lantoro 10,825 3,15 0,73 1,99 8,505 0,0193 0,0098
Total 29,200 10,5 1,09 5,32 20,339 0,0877 0,0289
Yang Diperoleh 10,5 10,40% 50,7% 1,9Mcal/kg 0,83% 0,28%
Standar Gizi 10,5 5,90% 56,0% 1,9Mcal/kg 0,21% 0,30%

Susunan ransom sapi Bali bunting yang beratnya badanya 300 kg dengan komposisi pakan rumput benggala 70% dan daun lantoro 30% telah mendekati standar gizi ternak itu. Kadar protein : 1,09/10,5 x 100% = 10,40 lebih tinggi dari standar 5,9%, demikian juga Ca yang diperoleh : 0,0877/10.5 x 100% = 0,83% lebih tinggi dari yang dibutuhkan yaitu 0,21%. Kadar TDN yag diperoleh : 5.32/10,5 x 100% = 50,7% lebih rendah dari yang dibutuhkan yaitu 56%, tetapi ME yang diperoleh : 20,339/10,5 = 1,9 Mcal.kg tepat sama dengan yang dibutuhkan yaitu 1,9 Mcal/kg.
Untuk memperbaiki susunan ransom di atas, yang perlu dilakukan adalah menurunkan PK dan Ca, dan meningkatkan TDN dengan pemberian pakan kosentrat. Dalam hal ini, kadar PK lantoro cukup tinggi yaitu 23,2% (Tabel 2.2), sehingga porsi daun lantoro diturunkan menjadi 15%. Jika 15% daun lantoro diganti dengan dedak padi dan bungkil kelapa, maka bahan kasar pakan menjadi 85%
TDN yang diperlukan dari dedak padi dan bungkil kelapa = 15/100 x 10,5 = 1,575
Jadi :
BK rumput benggala = 7,35 kg
BK daun lantoro = 3,15 – 1.575 = 1,575 kg
TDN rumput benggala = 3,33 kg
TND daun lantoro = 53,1/100 x 1,575 = 0,994 kg
Kekurangan TDN = (56/100 x 10,5 –(3.33 + 0,994)
= 5,88 – 4,324 = 1,556 kg
Persentase kekurangan = 1,556/1.575 x 100% = 98,79%


TDN dedak padi 87,6%

20,79%

TDN bungkil kelapa 78,0% 11,19%
Total 31,98%


BK dedak padi = 20.79/31.98 x 1.575 = 1,024 kg
BK bungkil kelapa = 11,19/31,98 x 1,575 = 0,551 kg
Jadi dibutuhkan :
Dedak padi = 100/80 x 1,024 = 1,191 kg
Bungkil kelapa = 100/80 x 0,551 = 0,641 kg

Tabel 2.5. Susunan Ransum Sapi Bali Bunting dengan Empat Bahan Baku Pakan
No, Nama
Bahan Berat
Bahan (kg) BK
(kg) PK
(kg) TDN
(kg) ME
(Mcal) Ca
(kg) P
(kg)
1 Rumput
Benggala 18,375 7,350 0,36 3,33 11,834 0,0184 0,0191
2 Daun
Lantoro 5,412 1,575 0,365 0,994 4,325 0,00346 0,005
3 Dedak Padi 1,191 1,024 0,143 0,897 3,3997 0,0010 0,008
4 Bungkil Kelapa 0,641 0,551 0,119 0,430 1,570 0,055 0,004
Total 25,619 10,5 0,987 5,651 21,055 0,055 0,0361
Yang Diperoleh 10,5 9,4% 53,8% 2,0Mcal/kg 0,52% 0,34%
Standar Gizi 10,5 5,90% 56,0% 1,9Mcal/kg 0,21% 0,30%

Berdasarkan pakan baku yang tersedia baik itu berupa hijauan maupun kesentrat dalam memberikan pakan ternak sapi Bali kita harus susun ransom sedemikian rupa, sehingga terpenuhinya standar gizi yang diperlukan oleh ternak tersebut. Pemilihan pakan ternak disamping berdasarkan harga pakan atau kemudahan mendapatkan pakan tersebut, maka sangat perlu diperhatikan nilai gizi dari pakan tersebut.
Pemilihan pakan sapi Bali di musim kemarau perlu mendapat perhatian khusus, karena pada saat musim kemarau pakan ternak sapi sering habis persediaannya, sehingga peternak harus membeli bahan pakan ternak dari daerah lain, baik itu brupa hijauan segar maupun jerami. Sebagai contoh bila tersedia 2 jenis jerami di pasaran yaitu jerami kacang kedelai dan jerami padi, sebaiknya dipilih jerami kacang kedelai, karena jerami kacang kedelai nilai gizinya mendekati 2 kali lipat dibandingkan jerami padi.

Daftar Pustaka

Abidin, Z 2002. Pengembangan sapi potong. Agro Media Pustaka Jakarta

Bandani, Y 2001. Sapi Bali Cetakan III. Penerbit Swadaya Jakarta

Gunawan, D Pamungkas dan L. Affandhy. 1998. Sapi Bali, Potensi, Produktifitas, dan
Nilai Ekonomi. Kanisius Yogyakarta.

Lana, K. 2001. Makana dan Penampilan Ternak STS Dalam Peningkatan Produktifitas
Peternakan dan Kelestarian Lingkungan Pertanian Lahan Kering dengan Sistem
Tiga Strata. Penerbit UPT Penerbit Universitas Udayana Denpasar

Murtidjo, B.A. 1990. Bewternak sapi Potong . Penerbit Kanisius Yogyakarta

Nitis, IM,, K Lana. W Suarna, W Sukanten, S Putra, W Arga, N.K Nuraini, dan
I.B sutrisna. 1998. Petunjuk Praktis Tata Laksana Sistem Tiga Strata. Edisi 4.
LPM Unud. Denpasar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar